|
Hari ini, 253 tahun sudah Kota Yogyakarta resmi berdiri. Ditandai dengan ditempatinya Istana Kraton di Negari Ngayogyakarta Hadiningrat oleh Sultan Hamengkubuwono I pada tanggal 7 Oktober 1756. Pada hari ini pula, Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta memberikan instruksi pada pelajar di sekolah-sekolah yang berada di Kota Yogyakarta, juga pegawai di dinas-dinas Pemkot Yogyakarta untuk mengenakan busana adat Jawa. Dilanjutkan dengan acara-acara pendukung perayaan hari jadi Kota Yogyakarta selama bulan Oktober 2009 ini. Kembali pada instruksi memakai busana Jawa, nampaknya semua paham bahwa tujuan utamanya adalah menumbuhkan kembali kecintaan pada budaya lokal Jawa atau Yogyakarta. Sesuatu yang positif mengingat dewasa ini masyarakat ternyata lebih menyukai sesuatu yang bersifat global daripada nilai-nilai lokal. Ini ditambah dengan kebesaran nama Yogyakarta yang dalam survey yang dilakukan salah satu stasiun televisi swasta, Yogyakarta menempati posisi teratas di Indonesia sebagai kota yang paling diinginkan untuk tempat tinggal. Juga masyhurnya citra Yogyakarta sebagai kota pendidikan yang membuat jumlah pendatang di Yogyakarta terus meningkat. Tentu kita tidak bisa menyalahkan banyaknya pendatang, karena masyarakat asli Yogyakarta pun tidak bisa dijamin mencintai budayanya. Berbicara masalah budaya, seringkali kita mempersempitnya pada hal-hal yang bersifat kasat mata. Seperti busana adat, tari-tarian, lagu daerah, alat musik, dongeng, dan sebagainya. Padahal, budaya sangatlah luas. Seperti dikatakan oleh Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial, norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, juga segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat. Tulisan ini akan menekankan pada sistem sosial yang terbentukdari norma dan nilai-nilai sosial. Jika dalam teori perwujudan budaya J.J. Hoenigman, sistem sosial ini masuk dalam wujud aktivitas, yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Sedangkan sistem sosial sendiri adalah aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Masyarakat Yogyakarta mulanya terkenal dengan tipikalnya yang santun dan terbuka. Namun, meloncat pada permasalahan, nampaknya ciri khas itu mulai pudar. Seiring derasnya arus globalisasi yang membawa segala hal nilai-nilai global, masyarakat pun perlahan tapi pasti mulai meninggalkan pola-pola interaksi yang khas nilai lokal. Interaksi disini tentu tidak terbatas pada kehidupan bertetangga, tetapi dikontekstualisasi dengan realita kekinian. Di jalan raya misalnya, betapa kesantunan itu hampir tak terlihat lagi. Pengguna plat AB pun tak lagi mampu menunjukkan kesadaran bahwa ia tidak hidup sendirian dengan bertindak seenaknya seolah ia sang penguasa jalan. Masih banyak lagi contoh-contoh dari aplikasi budaya secara luas, baik dari hal-hal yang sederhana seperti contoh di atas, hingga yang lebih kompleks semisal dalam perpolitikan. Marilah, dalam momentum hari jadi Kota Yogyakarta ini, kita kembali pada budaya santun masyarakat Jawa, mengingat dapat dikatakan Yogyakarta adalah episentrum kebudayaan Jawa. Dirgahayu Kota Yogyakarta!!
 | selamat ultah, jogja, kota yang bikin saya rindu untuk terus kembali :) |
 | smoga tetaplah jogja jadi kota budaya dan bner bner jadi apisentrum budaya jawa,indonesia n dunia!!!! marilah bersantun santun ria.. santun itu indah kok |
|
|